Sabtu, 10 Oktober 2026
BUMN Ekspor PT DSI Disebut Kelola Devisa US$ 10 Miliar, Bos Danantara Buka Suara

BUMN Ekspor PT DSI Disebut Kelola Devisa US$ 10 Miliar, Bos Danantara Buka Suara

2 menit baca

JAKARTA – TERASBERITA.ID — Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, memberikan penjelasan terkait klaim bahwa Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) telah mengelola devisa ekspor hingga US$ 10,5 miliar hanya dalam tempo sebulan lebih beroperasi, sebagaimana sempat diungkapkan Presiden Prabowo Subianto.

Rosan menerangkan bahwa angka tersebut merupakan hasil konsolidasi integrasi data ekspor lintas kementerian dan lembaga yang mulai diterapkan penuh sejak 1 Juni 2026. Melalui sistem terpadu satu pintu tersebut, seluruh pergerakan komoditas ekspor kini dapat diawasi secara komprehensif secara real-time.

“Mulai 1 Juni hingga Juli, tepatnya per pekan lalu, kami sudah berhasil menarik dan mengintegrasikan data dari seluruh instansi terkait. Mulai dari Bea Cukai, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, hingga lembaga terkait lainnya,” ungkap Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (20/7/2026).

Satu Pintu Bongkar Celah Selisih Harga

Sebelum adanya integrasi ini, data ekspor tersebar terpisah di masing-masing instansi tanpa sinkronisasi langsung. Kini, sistem pemantauan terpusat menyajikan rekam jejak lengkap: mulai dari tonase atau volume barang, pelabuhan keberangkatan, setoran bea dan pajak, hingga transparansi nilai harga transaksi yang dilaporkan eksportir.

Integrasi data tersebut langsung membuahkan hasil nyata, salah satunya pada tata niaga ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya seperti RBD Olein. Selama ini, kerap ditemukan disparitas yang mencolok antara harga deklarasi penjualan eksportir (declared price) dengan harga acuan indeks pasar global.

“Sebelumnya selalu ada celah atau selisih yang signifikan antara declared price yang dilaporkan saat penjualan dengan indeks harga pasar. Karena data instansi terpisah-pisah, celah itu sulit terpantau secara utuh,” jelas Rosan.

Pangkas Celah Ratusan Persen dan Pasang Alarm Pengawasan

Penerapan sistem anyar ini terbukti efektif menekan kebocoran penerimaan devisa. Rosan menyebutkan, selisih harga yang sebelumnya rata-rata menembus di atas 30 persen kini mulai terpangkas drastis dan mendekati harga acuan riil.

Tak hanya itu, sistem Danantara telah dilengkapi fitur peringatan dini (early warning alert) otomatis yang akan menyala jika terdeteksi anomali data volume, pelabuhan, maupun ketidakwajaran harga transaksi di lapangan.

Pada tahap awal, pengawasan ketat difokuskan pada tiga komoditas andalan ekspor nasional, yakni batu bara, kelapa sawit, serta paduan besi (ferroalloy) beserta seluruh produk turunannya.

“Dengan pengawasan terintegrasi, kita tahu persis kapal berangkat dari dermaga mana, berapa tonasenya, serta berapa bea dan pajak yang disetorkan. Begitu terdeteksi ada anomali atau celah yang tidak wajar, sistem langsung memberi notifikasi untuk segera ditindaklanjuti oleh Bea Cukai, Kementerian Keuangan, ESDM, maupun Kementerian Perdagangan,” pungkas Rosan.

Berita Terkait