Minggu, 11 Oktober 2026
Topang 40 Persen Kebutuhan Nasional, Terminal LPG Tanjung Sekong Perkuat Ketahanan Energi

Topang 40 Persen Kebutuhan Nasional, Terminal LPG Tanjung Sekong Perkuat Ketahanan Energi

2 menit baca
JAKARTA – TERASBERITA.ID — Terminal LPG Tanjung Sekong kian mengukuhkan perannya sebagai infrastruktur strategis PT Pertamina (Persero) dalam menjaga stabilitas pasokan energi domestik. Berstatus sebagai Objek Vital Nasional (Obvitnas), fasilitas ini menopang sekitar 35 hingga 40 persen dari total kebutuhan LPG nasional, dengan jangkauan distribusi meliputi 63 kabupaten/kota yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Sumatera Selatan.
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, menegaskan krusialnya keandalan operasional terminal ini dalam mendukung denyut perekonomian masyarakat.
“LPG bukan sekadar komoditas energi, melainkan kebutuhan dasar yang menopang aktivitas harian masyarakat. Keandalan pasokannya wajib terjaga agar sektor rumah tangga, UMKM, hingga industri dapat terus berproduksi tanpa kendala. Terminal LPG Tanjung Sekong memegang peranan vital dalam menjaga ketahanan energi nasional,” papar Mochamad Iriawan dalam keterangan resminya, Jumat (31/7/2026).
Kapasitas Hub Raksasa dan Standardisasi HSSE
Mulai beroperasi sejak 2012 dan ditingkatkan statusnya menjadi Terminal LPG Refrigerated pada 2020, fasilitas di atas lahan seluas 12,9 hektare ini tercatat sebagai salah satu hub elpiji terbesar di tanah air.
Terminal Tanjung Sekong ditunjang oleh sejumlah spesifikasi operasional utama:
  • Kapasitas penyimpanan (storage) mencapai 98.000 metrik ton (MT).
  • Tiga dermaga sandar (jetty) dengan daya tampung kapal tanker berbobot 3.500 hingga 65.000 DWT.
  • Laju penyaluran (throughput) melampaui 200.000 MT per bulan.
Dalam tinjauan lapangannya, Iriawan memeriksa alur penerimaan kargo, tangki penyimpanan, hingga sistem distribusi akhir, sembari mengingatkan pentingnya penerapan disiplin ketat Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) tanpa kompromi demi mencegah potensi risiko kecelakaan kerja.
Digitalisasi Rantai Pasok dan Dekarbonisasi Berkelanjutan
Guna memangkas waktu distribusi ke berbagai wilayah, Pertamina mempercepat integrasi sistem digitalisasi rantai pasok. Inovasi ini mencakup pemantauan stok secara real-time serta efisiensi waktu sandar kapal (berthing time).
Di sisi lain, Terminal Tanjung Sekong juga mulai mengadopsi peta jalan dekarbonisasi melalui transisi penggunaan energi rendah emisi pada fasilitas pendukungnya guna mewujudkan operasi industri yang ramah lingkungan.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menambahkan bahwa terminal ini beroperasi penuh 24 jam nonstop untuk menjamin pasokan energi tetap aman di tangan konsumen.
“Keunggulan operasional terminal tidak semata ditentukan oleh kecanggihan fisik infrastruktur, melainkan juga kedisiplinan kerja, kepatuhan HSSE, dan kesiapan penuh para pekerja di setiap lini distribusi. Dedikasi inilah yang memastikan energi bagi masyarakat tidak pernah terputus,” pungkas Baron.

Berita Terkait