Rabu, 14 Oktober 2026
Buntut Insiden di Pati dan Mamuju, Kemensos Perketat Pengawasan Asrama Sekolah Rakyat

Buntut Insiden di Pati dan Mamuju, Kemensos Perketat Pengawasan Asrama Sekolah Rakyat

2 menit baca

JAKARTA – TERASBERITA.ID — Kementerian Sosial (Kemensos) mengevaluasi menyeluruh sistem pengawasan dan pengasuhan di lingkungan Sekolah Rakyat pascainsiden perselisihan yang melibatkan sejumlah siswa di Pati, Jawa Tengah, dan Mamuju, Sulawesi Barat. Langkah penguatan ini diambil sebagai tindak lanjut untuk memastikan keamanan dan mencegah terulangnya konflik serupa di masa mendatang.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi (Pusdiklatbangprov) Kemensos, Afrizon Tandjung, membeberkan bahwa gesekan tersebut dipicu oleh kesalahpahaman antarsiswa yang tengah dalam masa adaptasi. Menurutnya, pertemuan siswa dari berbagai latar belakang, kebiasaan, dan karakter bawaan keluarga rentan memunculkan dinamika sosial saat mereka dituntut hidup berdampingan di asrama.

“Ada kesalahpahaman di antara siswa yang memiliki kebiasaan berbeda. Dalam interaksi tersebut, terjadi kontak yang mengakibatkan adanya luka. Namun, anak yang mengalami luka sudah langsung mendapatkan penanganan komprehensif dari tim medis,” jelas Afrizon, Sabtu (10/10/2026).

Kedepankan Dialog dan Perkuat Kapasitas Wali Asrama

Guna menyelesaikan persoalan ini secara kondusif, pihak sekolah telah membuka ruang komunikasi intensif dengan para orang tua murid. Afrizon memastikan bahwa pencarian solusi bersama ini akan bermuara pada satu prioritas utama, yakni perlindungan dan kepentingan masa depan anak.

Kemensos menegaskan bahwa insiden yang memicu cedera fisik, terlepas dari apa pun alasannya, tidak dapat dibenarkan di lingkungan pendidikan. Sebagai langkah mitigasi, Kemensos menginstruksikan seluruh tenaga pendidik, wali asuh, dan pengelola asrama untuk mempertebal fungsi pengawasan harian dan pendampingan psikologis.

Sekolah Rakyat dirancang tidak sekadar sebagai fasilitas akademik, melainkan kawah candradimuka untuk membentuk karakter dan toleransi. “Tugas kita adalah membimbing mereka dengan sabar dalam belajar memahami perbedaan, sekaligus memastikan lingkungan sekolah tetap aman dan nyaman,” urai Afrizon.

Jaga Privasi dan Stigma Anak

Di samping pembenahan internal, Afrizon secara khusus mengimbau seluruh pihak untuk menghormati serta menjaga privasi para siswa yang terlibat dalam insiden tersebut. Ia menekankan bahwa setiap anak berhak atas kesempatan kedua untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus terus dibayangi stigma atau trauma dari kejadian masa lalu.

“Sekolah Rakyat hadir untuk menjaga harapan dan masa depan anak-anak. Karena itu, setiap persoalan harus kita selesaikan dengan baik, setiap kekurangan harus kita perbaiki, dan setiap anak wajib kita lindungi secara utuh,” pungkasnya.

Berita Terkait