Dari Pesantren untuk Bangsa, Atiqoh Noer Alie Center Diresmikan
TerasBerita.id, BEKASI – Perjalanan panjang pengabdian dan kepemimpinan berbasis nilai keislaman menjadi sorotan utama dalam peluncuran buku biografi Hj. Atiqoh Noer Alie.
“Dalam dirinya terintegrasi ilmu, akhlak, dan pengabdian, sebuah kesatuan yang menjadi inti dari kepemimpinan yang sejati. Ia sosok yang hangat, egaliter, dan tidak pernah menciptakan jarak,” ujar Pimpinan Pusat Aisyiyah, Prof. Dr. Hj. Masyitoh Chusnan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara akbar yang digelar di Plaza Masjid Albaqiyatussalihat, Pondok Pesantren Attaqwa Putri, Bekasi, Sabtu (25/4/2026).
Kegiatan ini mengintegrasikan empat agenda besar sekaligus: peluncuran buku peringatan 75 tahun, tasyakuran empat dekade kepemimpinan, haul ke-13 Almagfurlah H. Abdul Fattah Hidayat, serta peresmian Atiqoh Noer Alie Center.
Acara dihadiri sekitar 800 peserta, mulai dari keluarga besar Almagfurlah KH. Noer Alie, jajaran pimpinan Yayasan Attaqwa, Institut Attaqwa KH. Noer Alie, hingga Ma’had Aly Attaqwa. Sejumlah tokoh nasional juga hadir, antara lain Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Dr. KH. Muchlis M. Hanafi, Ketua BKMT Jawa Barat Dr. Hj. Atifah Hasan, Rektor Institut Ilmu Al Quran Dr. Nadjematul Faizah, serta perwakilan dari Universitas Indonesia, UMJ, dan ITB.
Kehadiran lintas sektor ini menegaskan posisi Hj. Atiqoh Noer Alie sebagai simpul penting dalam ekosistem pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Peluncuran buku menjadi momen puncak yang menyedot perhatian. Buku ini tidak hanya merekam perjalanan hidup, tetapi juga mengungkap proses pembentukan karakter beliau sejak masa pendidikan.
Prof. Masyitoh Chusnan yang merupakan sahabat sejak masa pendidikan di Mu’allimat Yogyakarta menegaskan bahwa kepemimpinan Hj. Atiqoh dibangun melalui proses panjang dan konsistensi.
“Sejak di Mu’allimat, saya melihat Kak Atiqoh sebagai pribadi yang sangat tekun, disiplin, dan menjalani proses belajar dengan kesungguhan tanpa keluhan,” tuturnya.
Menurutnya, ketekunan tersebut tidak hanya membentuk kapasitas akademik, tetapi juga cara berpikir yang jernih dan sikap yang matang. Kepemimpinan Hj. Atiqoh dinilai sangat humanis, inklusif, dan tidak bersifat simbolik, melainkan hadir dalam praktik pengabdian yang nyata.
“Kepemimpinan dijalankan sebagai bentuk pelayanan, bukan sekadar posisi formal. Buku ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi penguatan peran perempuan dalam berbagai bidang,” tambahnya.
Di sisi lain, peresmian Atiqoh Noer Alie Center diharapkan menjadi tonggak baru dalam mengembangkan gerakan sosial berbasis nilai pesantren.

Direktur Eksekutif lembaga ini, Dr. Khaerul Umam Noer, menjelaskan bahwa lembaga ini lahir sebagai artikulasi kelembagaan dari jejak pengabdian keluarga KH. Noer Alie.
“Atiqoh Noer Alie Center berdiri bukan sekadar sebagai lembaga, tetapi sebagai upaya menerjemahkan nilai-nilai yang diwariskan ke dalam konteks zaman hari ini agar tetap berdampak dan berkelanjutan,” tegas Dr. Umam Noer.
“Jika Attaqwa adalah pohon besar, maka Atiqoh Center adalah biji yang tumbuh menjadi bibit, bukan untuk menyaingi, melainkan menjadi supporting system yang memastikan kesinambungan nilai lintas generasi,” imbuhnya.
Lembaga ini hadir sebagai ekstensi sosial yang menjembatani pendidikan, komunitas, dan kebijakan publik melalui program pencegahan kekerasan, Dukungan Psikologis Awal (DPA), hingga advokasi yang bekerja sama dengan Komnas Perempuan dan Komnas Disabilitas.
Rangkaian acara diakhiri dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan atas perjalanan panjang pengabdian Hj. Atiqoh Noer Alie.