Rabu, 3 Juni 2026
COPOT DADAN: Pilihan Tepat Selamatkan Marwah MBG

COPOT DADAN: Pilihan Tepat Selamatkan Marwah MBG

4 menit baca

COPOT DADAN: Pilihan Tepat Selamatkan “Marwah” MBG

Oleh: Toto Izul Fatah
Kabar gembira itu akhirnya datang juga. Presiden Prabowo Subianto secara resmi mencopot Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dan menggantinya dengan Nanik S. Deyang yang sebelumnya Wakil Kepala BGN.

Buat saya, pergantian dari Dadan ke Nanik patut dibaca bukan semata sebagai pencopotan pejabat. Lebih dari itu, keputusan tersebut harus dimaknai sebagai sinyal kuat bahwa Presiden tidak ingin program Makan Bergizi Gratis (MBG) kehilangan marwahnya karena cukup babak belur digoreng publik, netizen, dan berbagai pihak. Tentu, ini karena pelaksanaan di lapangan yang masih terus memunculkan berbagai masalah.

Dalam konteks ini, saya harus jujur mengakui itu sebagai keputusan yang mencerminkan kepekaan politik sekaligus kepekaan moral seorang Presiden. Prabowo bukan hanya mendengar kegaduhan, tetapi juga menangkap keresahan publik.

Termasuk, Presiden membaca keluhan orang tua siswa, memahami kritik masyarakat tentang menu yang nilainya diduga berkurang, dapur yang belum memenuhi standar, dugaan jual beli titik, hingga munculnya aroma mafia yang ingin mengambil untung besar dari program negara.

Padahal, sejak awal, program MBG ini lahir dari niat besar dan tulus Presiden Prabowo untuk membantu rakyat. Program ini bukan sekadar proyek makan siang. Ia adalah ikhtiar negara untuk menjawab problem mendasar bangsa. Yaitu, stunting, gizi buruk, lemahnya daya tahan anak-anak, dan ketimpangan akses gizi di kalangan siswa dari keluarga kurang mampu.

Karena itulah, ketika pelaksanaan program ini mulai menimbulkan banyak catatan, Presiden harus mengambil langkah tegas. Membiarkan masalah terus berjalan sama saja dengan membiarkan niat baik itu rusak di tengah jalan.

Membiarkan dapur yang tidak layak, menu yang tidak sesuai, atau praktik percaloan titik terus hidup, sama saja dengan membuka ruang bagi publik untuk menuduh bahwa program mulia ini hanya berubah menjadi ladang proyek.

Keputusan mengganti Kepala BGN dengan Nanik S. Deyang, dalam konteks ini, menjadi pilihan yang cukup tepat. Sebab, Nanik selama ini dikenal sebagai figur yang paling aktif turun ke lapangan.

Ia melakukan sidak. Ia melihat langsung kondisi dapur. Ia tidak hanya menerima laporan di atas meja. Ia juga tidak segan memberi peringatan, menegur, bahkan mendorong penutupan jika ditemukan pelanggaran serius.

Itulah modal penting Nanik. Ia sudah melihat penyakit MBG dari jarak dekat. Ia tahu di mana titik lemahnya. Ia tahu siapa yang bekerja serius dan siapa yang hanya menumpang proyek.

Yang pasti, ia juga tahu bahwa program sebesar MBG tidak cukup hanya dikelola dengan laporan administratif yang rapi, tetapi harus dikawal dengan keberanian, ketegasan, dan kejujuran.

Namun, justru karena itu, tanggung jawab Nanik sekarang jauh lebih berat. Ketika masih menjadi wakil, ia bisa tampil sebagai pengawas lapangan. Tetapi setelah menjadi Kepala BGN, ia tidak lagi cukup hanya marah, menegur, atau melakukan sidak.

Tetapi, ia harus membangun sistem yang membuat pelanggaran sulit terjadi. Ia harus memastikan standar dapur benar-benar dijalankan. Ia harus membongkar jaringan mafia jika memang ada.

Dan ia juga harus menutup ruang jual beli titik. Termasuk, harus memastikan nilai menu tidak dikurangi. Ia juga harus menjamin bahwa setiap rupiah uang negara benar-benar sampai kepada anak-anak dalam bentuk makanan yang layak, sehat, bergizi, dan bermartabat.

Karena itu, Nanik tidak boleh berhenti sidak setelah menjadi kepala. Justru sebaliknya, sidak harus menjadi kultur baru BGN. Pengawasan mendadak harus menjadi pesan bahwa negara hadir bukan hanya saat peresmian, tetapi juga saat dapur bekerja, saat bahan makanan dipilih, saat menu disajikan, dan saat anak-anak menerimanya.

Di bawah kepemimpinan Nanik, BGN juga harus lebih terbuka kepada publik. Kritik netizen tidak boleh dianggap sebagai gangguan. Kritik media tidak boleh dibaca sebagai serangan.

Sebaliknya, semua itu harus ditempatkan sebagai alarm sosial agar program ini tidak menyimpang dari niat awal Presiden. Dalam demokrasi, suara publik adalah pagar moral kekuasaan.

Dalam konteks inilah, pergantian Dadan kepada Nanik harus dimaknai juga sebagai langkah korektif Presiden Prabowo untuk menyelamatkan marwah MBG. Presiden tampaknya ingin mengatakan bahwa program ini terlalu penting untuk dibiarkan rusak oleh pelaksana yang lemah, dapur yang asal jalan, atau pemain-pemain nakal yang hanya melihat MBG sebagai proyek basah.

Kini bola ada di tangan Nanik. Ia harus membuktikan bahwa kepercayaan Presiden bukan hadiah, melainkan amanah besar.

Ia harus menunjukkan bahwa MBG bisa berjalan lebih bersih, lebih tertib, lebih transparan, dan lebih tepat sasaran. Ia harus memastikan bahwa niat tulus Prabowo tidak dikalahkan oleh kerakusan para pemburu rente.

Jika Nanik mampu membersihkan dapur MBG dari praktik kotor, memperbaiki standar pelayanan, dan mengembalikan kepercayaan publik, maka pergantian ini akan dicatat sebagai momentum penting.

Di situlah tantangan terbesar Nanik Deyang. Ia harus menjadi penjaga marwah MBG. Ia harus menjadi mata Presiden di lapangan. Ia harus menjadi pagar dari niat baik Prabowo.

Jakarta, Juni 2026

Toto Izul Fatah
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat.

(Toto Izul Fatah adalah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA)

Berita Terkait