Teras Berita
No Result
View All Result
  • News
    • Pemda
    • Pemerintahan
  • BUMN
    • BUMDes
    • BUMD
  • Keuangan
    • Asuransi
    • CSR
  • Ekonomi Bisnis
  • Infrastruktur
  • Teras Kita
  • Teras Muslim
  • Tokoh Publik
  • UMKM
  • Wisata Budaya
  • News
    • Pemda
    • Pemerintahan
  • BUMN
    • BUMDes
    • BUMD
  • Keuangan
    • Asuransi
    • CSR
  • Ekonomi Bisnis
  • Infrastruktur
  • Teras Kita
  • Teras Muslim
  • Tokoh Publik
  • UMKM
  • Wisata Budaya
No Result
View All Result
Teras Berita
No Result
View All Result
Home News

Tradisi Tasyakuran Orang Kampung Nyambat Tetangga

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Terasberita.id, Bekasi– Menyambat Slametan, tasyakuran atau sedekahan menjadi bagian tradisi di masyarakat Indonesia, termasuk di Bekasi, Jawa Barat. Kebiasaan ini sudah turun temurun sejak dahulu.

Terutama di Bekasi yang mayoritas beragama Islam, mereka biasanya menggelar selamatan usai Magrib. Satu utusan sohibul hajat (tuan rumah) pada sore hari keliling mengundang para tetangga dengan undangan lisan.

Biasanya yang hadir bisa ratusan orang, tergantung luas perkampungan tersebut dan sesuai kemampuan sohibul hajat ngundang para tetangga. Jika bajet minim biasanya hanya tetangga dekat saja yang disambat (undang).

Tasyakuran banyak macamnya. Ada tasyakuran hasil panen padi, menempati rumah baru, sunatan bocah, hajatan kawinan, sukuran kenaikan jabatan, kelulusan, dan lain sebagainya.

Yang diundang juga kaum laki-laki, mayoritas sudah berkeluarga. Undangan prioritas dilayangkan ke rumah ustad kampung, minimal dua orang ustadz. Satu sebagai pemberi tausiah (ceramah) dan satu ustadz lagi sebagai pembaca doa penutup.

Kadang ustadz tidak dibayar hanya dibekali beraneka besek berupa nasi, kue dan aneka buah-buahan. Ustadz di kampung dulu masih memegang teguh sebuah keikhlasan tanpa pamrih.

Dalam ritual selamatan tersebut biasanya para jemaah bareng-bareng melantunkan zikir, tahlil dan tahmid. Setelah itu ditutup doa dan makan kue khas kampung. Ada juga Tuan rumah yang membekali besek (berkat) berupa nasi plus lauk pauk untuk dibawa pulang.

Tradisi sambat menyambat hajatan sedekahan ini sudah berlangsung lama khususnya di perkampungan Bekasi. Sederhana tapi sakral, dan sudah menjadi bagian dari lokal wisdom sejak orang tua terdahulu.

(Dede Rosyadi)

Tags: Tradisi SyukuranTradisi Tasyakuran

Related Posts

No Content Available
Next Post

Pemkab Bekasi Kembali Raih Penghargaan KLA 2023

Ramadhan 1443H

Bupati Sambas Terima Kunjungan Kerja Sekretaris BNPP RI Bahas Kelanjutan PLBN Temajuk-Teluk Melano

Maret 4, 2026

TERASBERITA ID, SAMBAS - Dalam upaya mempercepat pembangunan kawasan perbatasan, Bupati Sambas H. Satono, S. Sos. I. MH menerima kunjungan...

Read more

Safari Ramadhan di Masjid Uswatun Hasanah: Bupati Sambas Tekankan Pemerataan Pembangunan

Maret 4, 2026

Bupati Sambas Pimpin Safari Ramadan di Desa Tangaran, Pererat Silaturahmi dan Pantau Pembangunan

Februari 27, 2026

Safari Ramadhan di Selakau: Bupati Sambas Pererat Ukhuwah dan Serap Aspirasi Warga

Maret 4, 2026

Sinergi Membangun Sambas: Bupati Satono Ajak Warga Seimbangkan Pembangunan Fisik dan Spiritual

Februari 28, 2026

seedbacklink

Seedbacklink

Teras Berita

Jalan MT Haryono Kav 10
Jatinegara, Jakarta Timur, DKI Jakarta

Follow us

No Result
View All Result
  • Homepages
    • Home Page 1
    • Home Page 2
  • News
  • Politics
  • National
  • Business
  • World
  • Entertainment
  • Fashion
  • Food
  • Health
  • Lifestyle
  • Opinion
  • Science
  • Tech
  • Travel

© 2023 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Go to mobile version