TerasBerita.id – Ketua Umum PB NU, KH Yahya Cholil Staquf, diingatkan agar kedepan lebih sensitif terhadap berbagai isu kemanusiaan, khususnya terkait aksi biadab Israel terhadap warga Gaza di Palestina.
Hal itu disampaikan Ketua Umum IKA Pondok Pesantren Ibadurrahman YLPI Tegallega Sukabumi, Jabar, Toto Izul Fatah, kepada pers di Jakarta, Jumat (29 Agustus 2025). Ia menanggapi permintaan maaf Ketum PBNU yang akrab disapa Gus Yahya itu atas kekhilafannya mengundang akademisi Israel, Peter Borkowitz.
Diberitakan sebelumnya, Borkowitz diundang PBNU menjadi salah satu pemateri dalam acara Akademi Kepemimpinan Nasional pada 15 Agustus 2025 lalu. Atas kejadian tersebut, Gus Yahya mengakui PBNU tidak cermat dalam menyeleksi dan memeriksa jejak sang pembicara.
Seperti diketahui, Borkowitz adalah seorang zionis pro-Israel yang pernah menjadi salah seorang pejabat di Amerika Serikat. Dia juga disebut-sebut sebagai salah satu arsitek narasi pembenaran tindakan biadab Israel yang menyebabkan ribuan anak-anak dan perempuan tewas di jalur Gaza.
Menurut Toto yang juga Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA ini, tokoh sekelas Peter Borkowitz harusnya dengan mudah dilacak, baik sosok, pemikiran, maupun sikap politiknya. Salah satu buku kontroversialnya adalah “Human Rights Bodies Corrupt Human Rights To Vilify Israel” (April 2025).
Karena itulah, Toto mengingatkan, agar kedepan Gus Yahya bisa lebih peka lagi terhadap isu-isu kemanusiaan. Apalagi, terkait dengan genosida, pembantaian, pembunuhan, serangan brutal dan sejenisnya yang mengorbankan nyawa manusia.
“Kalau Gus Yahya baca perkembangan pemberitaan warga Palestina di jalur Gaza, harusnya menggugah hati siapapun. Mereka sengaja dibiarkan kelaparan, diserang membabi buta hingga rumah sakit pun dibombardir,” katanya.
Dalam pandangan Toto, apa yang terjadi di jalur Gaza adalah potret nyata sebuah kebiadaban yang tak boleh dibiarkan. Dalam konteks seperti itulah, memberi karpet merah kepada pendukung kebiadaban sama saja dengan ikut mendukung kebiadaban tersebut.
Toto menyesalkan, tak lama setelah diundang PBNU, Peter Borkowitz juga diundang menjadi narasumber untuk menyampaikan orasi ilmiah pada acara Pengenalan Sistem Akademik Universitas (PSAU) di Balairung UI Depok (23 Agustus 2025).
“Saya tak mengerti dan tak habis pikir, bagaimana kampus sekelas UI bisa teledor dan ceroboh mengundang narasumber yang tak diketahui latar belakangnya. Ini tontonan kebodohan yang memalukan dari para petinggi di UI di tengah era sekarang yang begitu mudah mengakses informasi apapun,” tegasnya.