Pasar saham Indonesia tetap menunjukkan stabilitas yang cukup baik meskipun di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah. Hal ini menjadi perhatian utama bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang menegaskan bahwa meski ada sejumlah tantangan dari kondisi global, pelaku pasar tidak menunjukkan reaksi berlebihan atau kepanikan yang signifikan. Hasan Fawzi, anggota Dewan Komisioner OJK, menyampaikan pandangan ini dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Selasa malam, mencerminkan optimisme terkait kesehatan pasar modal domestik.
Salah satu indikator positif adalah aktivitas investor asing yang tetap menunjukkan minat dengan melakukan pembelian saham di bursa domestik. Dalam periode awal bulan Maret 2026, nilai pembelian bersih oleh investor asing tercatat sekitar Rp2,23 triliun. Jika angka ini diperbarui hingga pertengahan bulan Maret, Hasan memperkirakan totalnya dapat mencapai Rp3,3 triliun. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada ketidakpastian di pasar global, daya tarik investasi di Indonesia tetap kuat.
OJK juga mengawasi dinamika pasar dengan cermat, siap untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menjaga stabilitas. Upaya ini mencakup penerapan instrumen kebijakan yang sudah ada guna mengantisipasi fluktuasi yang disebabkan oleh perubahan kebijakan perdagangan global dan dampak pandemi COVID-19. Beberapa kebijakan tersebut meliputi izin bagi emiten melakukan buyback saham tanpa perlu persetujuan RUPS, larangan praktik short selling, serta penerapan mekanisme auto rejection yang bersifat asimetris. Langkah-langkah tersebut, menurut OJK, telah cukup efektif dalam merespons gejolak pasar tanpa perlu pengetatan kebijakan yang lebih ketat.
Kendati ada tantangan dari luar, pasar saham Indonesia menunjukkan daya tahan yang baik. Rata-rata nilai transaksi harian di pasar saham mencapai hampir Rp30 triliun pada 6 Maret 2026, yang mencatat kenaikan 65,31 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa meski terdapat volatilitas dan respons pasar terhadap situasi global, aktivitas transaksi tetap berjalan dalam level yang tinggi.
OJK terus berkomitmen untuk memantau perkembangan pasar dan bersiap untuk menerapkan kebijakan tambahan jika diperlukan. Hasan menegaskan bahwa saat ini pasar mampu menyerap tekanan dari faktor eksternal, tanpa adanya kebutuhan mendesak untuk memperketat batasan harga saham. “Kami akan terus mengamati dan harus memberikan waktu untuk menilai situasi ini,” tambahnya.
Dengan kondisi ini, semua pihak diharapkan tetap optimis terhadap prospek pasar modal Indonesia. Kestabilan yang terus dipertahankan, ditunjang oleh minat investor yang masih kuat, menjadi sinyal positif bagi perkembangan ekonomi domestik di tengah tantangan global. OJK, bersama dengan pelaku pasar, berupaya memastikan bahwa pasar tetap berada pada jalur pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.